Pendidikan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Petualangan

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Penelitian

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Keluarga

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

03 Maret 2023

6 pertimbangan utama dalam memilih topik penelitian (studi S3) atau tugas akhir, point terakhir sering terlupakan.

Maret 03, 2023


Foto dari Alexandr Borecky di Pexel

Memilih topik penelitian yang tepat sangat penting untuk perjalanan penelitian Sobat. Pemilihan topik disertasi dapat menjadi sumber kecemasan bagi banyak mahasiswa doktoral dan akademisi, terutama bagi mereka yang baru mengenal dunia akademis. Ada beberapa pertimbangan yang menjadi point penting saya ambil dalam pemilihan topik penelitian, sehingga dapat membantu saya dalam menyelesaikan perjalanan pendidikan saya. Mari kita bahas satu persatu. 

Minat pribadi  

Memilih topik yang menarik minat Sobat sangat penting untuk keberhasilan disertasi Sobat. Mengapa demikian? Jika Sobat tidak menganggap penelitian Sobat menarik, akan sulit untuk tetap termotivasi selama prosesnya. Ketertarikan pribadi berarti Sobat memiliki hubungan dengan topik yang Sobat teliti, baik melalui pengalaman pribadi atau sekadar keingintahuan tentang sesuatu yang menarik bagi orang lain. Contoh:  Jika seseorang mengambil studi PhD tentang sejarah es krim cone karena mereka suka memakannya sepanjang hari (dan tidak suka kepanasan), maka orang tersebut mungkin memiliki minat pribadi yang cukup pada topiknya sehingga berhasil menyelesaikan penelitiannya tanpa merasa bosan dan menyerah di tengah jalan!  Namun, jika seseorang memilih topik yang benar-benar sembarangan, karena berfikir topik itu keren, meskipun Sobat tidak ada ketertarikan, dan memilih karena semua orang juga melakukan topik yang sama .... Mungkin tidak banyak peluang untuk sukses di sini!  

Kelayakan (waktu pengerjaan dan biaya yang dibutuhkan)  

Topik penelitian Sobat harus layak secara lama pengerjaan dan biaya yang dibutuhkan. Pernah suatu hari, di masa awal penelitian yang saya lakukan dalam mencari topik penelitian, saya mengusulkan penelitian yang sifatnya sustainable/berkelanjutan, setelah menceritakan panjang lebar, apa yang saya maksud dengan berkelanjutan, pembimbing saya dengan bijak mengatakan bahwa tema itu bagus, tetapi memberikan pertanyaan berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan penelitian dengan topik tersebut, apakah akan selesai dengan masa kontrak penelitian yang saya miliki? 

Penting bagi Sobat untuk mengetahui bidang yang digeluti oleh (calon) pembimbing Sobat dan bidang Sobat sendiri. Ini akan membantu Sobat memutuskan apakah pertanyaan penelitian yang diajukan sesuai dengan bidang mereka dan apakah mereka memiliki sumber daya untuk membantu Sobat menjawabnya. Supervisor Sobat mungkin juga perlu diyakinkan bahwa pertanyaan tersebut layak untuk dikejar (atau setidaknya dapat diselesaikan dalam batas waktu tertentu).  

Signifikansi  

Signifikansi adalah aspek terpenting dalam memilih topik penelitian. Tidaklah cukup jika Sobat menganggap topik Sobat menarik; topik tersebut harus penting bagi bidang tersebut, relevan bagi masyarakat, dan signifikan bagi Sobat.  Agar karya Sobat dapat membuat perbedaan, karya Sobat harus membahas sesuatu yang belum pernah diteliti sebelumnya atau menawarkan perspektif inovatif tentang pengetahuan yang ada. Ini tidak berarti bahwa setiap informasi dalam karya tulis Sobat harus baru - hanya saja cara Sobat mendekati topik dan pertanyaan yang Sobat ajukan haruslah unik.  

Orisinalitas  

Orisinalitas adalah salah satu faktor terpenting yang harus Sobat pertimbangkan saat memilih topik penelitian. Sobat tidak ingin menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sesuatu yang telah diteliti atau yang sedang diteliti orang lain. Untuk memastikan topik Sobat orisinal, Sobat perlu melakukan penelitian awal terlebih dahulu.  Untuk menentukan apakah sebuah topik itu orisinal, Sobat harus bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:  

  • Apakah ada orang lain yang pernah membahas masalah ini sebelumnya? 
  • Jika ya, sudah berapa lama? 
  • Apakah ada hasil dari penelitian mereka yang masih berlaku sampai sekarang (dan karena itu dapat berguna bagi Sobat)? 
  • Metode apa yang digunakan dalam penelitian ini dan bagaimana metode tersebut dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode lain dalam penelitian Sobat sendiri? 
  • Apakah ada kesenjangan dalam pengetahuan di bidang topik ini yang membutuhkan penelitian lebih lanjut? 
  • Seberapa luas area penelitian yang saya minati - apakah banyak orang yang mengerjakannya atau hanya sedikit peneliti yang tertarik pada aspek tertentu dari X (di mana X adalah area/topik apa pun)?

Pertanyaan Penelitian  

Pertanyaan penelitian adalah bagian terpenting dari proposal penelitian Sobat. Ini adalah alasan Sobat melakukan penelitian ini, dan harus berupa pertanyaan yang spesifik dan terperinci yang dapat dijawab dengan metode yang Sobat pilih. Cara yang baik untuk memikirkan pertanyaan tersebut adalah sebagai pertanyaan dengan jawaban yang jelas dan terukur. 

Pertanyaan seperti "Bagaimana saya bisa membuat pesawat terbang lebih cepat?" atau "Bisakah saya membuat listrik lebih murah?" Hal ini mungkin terlihat jelas, namun banyak yang akan kesulitan untuk merumuskan pertanyaan mereka sendiri karena mereka tidak tahu persis apa yang ingin mereka pelajari dari proyek penelitian mereka. Jika itu yang terjadi pada Sobat, ada beberapa trik sederhana untuk membantu Sobat kembali ke jalur yang benar!  Jika kita melihat dua contoh (di atas) lagi, kita dapat melihat betapa berbedanya kedua pertanyaan tersebut; satu pertanyaan bertujuan untuk membuat sesuatu terbang lebih cepat, sementara pertanyaan lainnya ingin membuat listrik lebih murah - hal ini masuk akal, karena pesawat terbang membutuhkan bahan bakar, sementara mobil listrik tidak membutuhkan bahan bakar sama sekali! Jadi, ketika Sobat menulis pertanyaan Sobat sendiri, jelaskan dengan jelas informasi apa yang akan dibutuhkan dan dapat disampaikan secara sederhana, jika tidak, tidak akan ada yang bisa memahaminya!

Pembimbing  

Memilih pembimbing Sobat adalah hal yang penting dan sering kali merupakan langkah pertama dalam memilih topik. Pembimbing Sobat harus memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang yang Sobat pilih untuk disertasi Sobat. Penting juga bahwa dia memiliki reputasi yang baik di bidangnya, karena ini dapat membantu Sobat nantinya untuk mendapatkan dana atau hibah untuk penelitian Sobat. Sobat harus mencari seseorang yang akan mendukung dan mendorong Sobat selama masa-masa sulit; bagaimanapun juga, pasti akan ada kemunduran di sepanjang jalan!  

Pembimbing yang supportive siap untuk menjawab pertanyaan mahasiswa bimbingannya sesuai dengan keahlian yang dimiliki, dan memberikan masukan disaat yang tepat - bahkan jika sangat mendesak, di malam hari dan di akhir pekan! 

Hal terakhir yang Sobat inginkan adalah dia tidak menjawab hingga Senin pagi karena dia terlalu sibuk di akhir pekan (atau lebih buruk lagi: tidak pernah). Hal ini menunjukkan kurangnya komitmen dari kedua belah pihak - dari pihak pembimbing untuk mengarahkan seminim mungkin, dan dari pihak Sobat untuk menjadi peneliti yang sukses suatu hari nanti melalui kerja keras di bawah bimbingan mereka.  

Memilih topik penelitian yang tepat sangat penting untuk keberhasilan disertasi Sobat.  

Memilih topik penelitian yang tepat sangat penting untuk keberhasilan disertasi Sobat. Sobat harus memilih topik yang Sobat sukai dan yang akan membantu Sobat mencapai tujuan Sobat sebagai peneliti, tetapi juga dapat dilakukan, penting, dan orisinal.  

Tapi apa maksudnya? Mari kita bahas lebih dalam:  

Kuncinya - Antusiasmesemangat Sobat akan mendorong Sobat melewati masa-masa sulit ketika segala sesuatu tampak berat atau menantang. Hal ini akan memotivasi Sobat ketika semua orang di sekitar Sobat telah kehilangan antusiasme mereka terhadap proyek tersebut atau beralih ke hal lain yang sama sekali berbeda! Cara terbaik untuk mengetahui apakah sesuatu benar-benar menarik (atau membosankan) adalah dengan berbicara dengan orang lain yang telah mempelajari mata pelajaran serupa dalam karier mereka sendiri - tanyakan kepada mereka apakah mereka memiliki saran tentang topik yang mereka anggap membosankan/menarik selama mereka di universitas; juga cari tahu tentang tren saat ini dalam ilmu pengetahuan - mungkin ada sesuatu yang baru yang sedang terjadi saat ini yang mengarah ke area di mana belum banyak penelitian yang dilakukan!  

Kesimpulan  

Memilih topik penelitian yang tepat sangat penting untuk keberhasilan disertasi Sobat. Penting bagi Sobat untuk memilih topik yang Sobat sukai dan dapat dikerjakan selama bertahun-tahun, tetapi juga memiliki implikasi dunia nyata dan berdampak pada masyarakat secara keseluruhan.  

27 Februari 2023

Menyelesaikan studi S3 bersama di Jerman dan Finlandia dan dikaruniai anak pertama

Februari 27, 2023

Jyväskylä, Finlandia, 10 Juni 2022

Ulm, Jerman, 8 Juli 2022

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Mungkin bagi orang lain kedua foto ini hanya sekedar foto biasa. Tapi bagi kami, foto ini lebih dari hanya sekedar foto bertiga dengan toga. Kedua foto ini seakan bisa bercerita tentang bagaimana masa-masa dikala itu  terasa begitu beratnya, namun menjadi sebuah kenangan yang indah pada akhirnya. Terkadang, kita tertawa dengan mengingat kembali hari-hari ketika kita menangis dan kita menangis dengan mengingat kembali hari-hari ketika kita tertawa. Begitulah hidup dengan suka dan dukanya, disetiap fase kehidupan selalu ada ujian dengan level yang berbeda. Biasanya, ujian yang dihadapi sekarang akan terasa lebih berat dari ujian sebelumnya. Padahal mungkin, hanya karena belum dilewati saja.  Bagaimanapun disetiap ujian pasti ada hikmahnya.

Menapak tilas balik perjalanan kami bersama, berawal di sebuah kota yang dahulu dikenal dengan julukan Paris van Java. Kota kembang yang katanya bukan hanya masalah geografis, tapi lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bagi kami pun rasa itu memang benar adanya. Kami berkenalan disaat masih kuliah sarjana dikampus yang sama. Kemudian baru menyadari ternyata kami juga berasal dari satu SMA. Memiliki karakter yang cukup berbeda tapi ternyata mempunyai visi yang sama membuat kami merasa jadi tempat yang nyaman untuk bercerita. Anehnya, kenyamanan itu seringkali berakhir menjadi persaingan, bersaing secara sehat tentunya. Terlahir di pulau yang berbeda, namun sama-sama memiliki darah rantau yang kental dari keluarga. Kami sudah terbiasa hidup jauh dari orangtua untuk sekolah sedari remaja. Sedikit banyaknya, kami juga mempunyai kebiasaan yang sama, yaitu memetakan mimpi-mimpi dengan motivasi yang berbeda. Kami pun mempunyai salah satu cita-cita yang sama, yaitu ingin ke luar negri untuk melanjutkan sekolah S2. Bagaimanapun, saat itu aku dilema. Disatu sisi, motivasi saat itu ingin mewujudkan mimpi almarhum Ayahanda yang telah tiada secara tiba-tiba, disaat masih kuliah sarjana semester kedua. Disisi lain, tidak ingin memberatkan ibunda dengan biaya.

Singkat cerita, dengan berbagai upaya dan doa, Alhamdulillah pada akhirnya kami berdua dapat melanjutkan studi S2 di Jerman dengan jalan yang berbeda, bekerja dan beasiswa. Rentetan tantangan hidup diluar negri tanpa keluarga tentu saja sudah hal yang biasa bagi diaspora. Belajar beradaptasi dengan semua hal yang baru dan berbeda, mulai dari negara, aturan, manusia hingga bahasa. Entah bagaimana caranya menceritakan bagaimana Allah berkali-kali memberikan kami pertolongan-Nya. Sampai pada akhirnya, kami dapat menyelesaikan studi S2 kami dengan jarak waktu yang tidak jauh berbeda. Alhamdulillah, kami juga ditawarkan untuk melanjutkan studi ke jenjang doktor oleh masing-masing professor di negara yang berbeda, yaitu Jerman dan Finlandia. Tentu kesempatan ini tidak ingin kami sia-siakan begitu saja.

Mengawali studi S3, kami pun memutuskan untuk berumah tangga. Harus diakui, saat itu memang bukan waktu yang mudah untuk membagi fokus menyiapkan segala sesuatunya. Pada tahun pertama studi S3 merupakan masa-masa krusial yang akan mempengaruhi tahun-tahun berikutnya. Saat itu, aku juga sedang disibukkan dengan proses submit dan revisi jurnal pertama. Sekali lagi, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya, semua berjalan sebagaimana mestinya. Benar adanya bahwa menikah itu pasti ada rejekinya, selama niatnya untuk beribadah kepada-Nya.

Dipertengahan studi S3, alhamdulillah kami dititipkan  seorang anak pertama. Tidak dapat dipungkiri selain rasa bahagia, rasa was-was pun tetap ada. Terlebih lagi saat itu kami masih harus tinggal di dua kota yang berbeda. Dari awal kehamilan hingga memasuki kehamilan trimester kedua, aku harus bolak-balik melakukan perjalanan darat maupun udara untuk tujuan dan kepentingan yang berbeda. Drama mual ditrimester pertama seringkali dihabiskan dipesawat dan kereta. Puncaknya, saat harus mengikuti konferensi untuk mempresentasikan hasil penelitian di Barcelona. Bagaimana perasaannya saat itu jangan ditanya, campur aduk rasanya. Mengeluh pasti ada. Bahkan sempat terpikir untuk menyerah juga ada.

Pada tahun 2020, tepatnya di awal pandemi alhamdulillah anak pertama kami lahir kedunia. Tidak bisa dipungkiri, masa pandemi memang masa yang tidak mudah bagi semua orang pada umumnya. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan, bahkan tidak sedikit juga yang kehilangan orang-orang tercinta. Bagaimanapun, masa pandemi membawa anugerah yang tidak kami sangka. Tepat memasuki kehamilan trimester kedua, kondisi pandemi membuat aturan work from home berlaku hampir disemua negara. Aturan ini memudahkan kami untuk melakukan semua hal dirumah secara bersama-sama. Suami pun tidak perlu harus bolak-balik Jerman-Finlandia.  Pada saat awal baru menjadi ibu, aku harus terbiasa menyusui bayi sambil didepan laptop untuk menulis paper, membaca jurnal, analisa data hingga percobaan simulasi codingan yang tidak terhitung jumlahnya. Rentetan malam-malam kami yang dipenuhi dengan diskusi bersama, „giliran siapa nih yang mau bergadang malam ini untuk mengerjakan disertasinya?“. 

Sampai di satu titik, kami pernah hampir terbesit untuk berhenti saja. Percakapan seperti “kamu saja yang fokus untuk selesaikan disertasi, aku tidak apa tidak selesai” seringkali terucap saling bergantian disaat rasanya semua tidak berjalan sesuai rencana. Tidak jarang juga berakhir dengan air mata. Melihat anak masih bayi tentu ada rasa bersalah kalau menyerah begitu saja. Campur aduk rasanya, terlebih mengingat janji dan tanggungjawab tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga. Sampai pada akhirnya, kami menyadari bahwa hanya mengeluh bahkan menyerah tidak akan menyelesaikan dan merubah apa-apa. Semua waktu, usaha dan segala hal yang sudah diperjuangkan hanya akan sia-sia. Hingga pada akhirnya berusaha untuk semangat “sekali layar terkembang, pantang surut kembali kebelakang“ ditancapkan kembali didada. Berusaha menyelesaikan apa yang sudah kami mulai dan fokus dengan apa yang kami punya. Kami pun menyadari ada yang perlu dibenahi secara bersama:

Membuat timeline dan kemajuan setiap harinya

Sekecil apapun progress atau kemajuan yang kita lakukan pada hari ini dibandingkan hari sebelumnya, akan jauh lebih baik daripada jika hari ini dan kemarin tidak ada bedanya. Yang terpenting adalah bagaimana kemajuan sekecil apapun itu dilakukan secara konsisten setiap harinya.

Memetakan mimpi dan membayangkan hasilnya

Kami terbiasa memetakan mimpi bersama, kemudian membayangkan bagaimana rasa bahagianya jika semua mimpi itu menjadi nyata. Ternyata, kebiasaan ini sama-sama sudah kami lakukan sedari remaja, hanya saja mungkin dengan cara yang berbeda. Aku terbiasa membuat „peta hidup“ setiap tahunnya, sebuah peta tentang target apa saja yang sudah terwujud sebagai bahan evaluasi dan juga rencana untuk tahun berikutnya. Suami pun demikian, dia terbiasa memvisualisasikan mimpinya kemudian menempelkan didinding kamarnya. Setelah berkeluarga, kebiasaan itu kami gabung dan  lakukan secara bersama-sama. Kami membuat „peta hidup“ sebagai keluarga setiap tahunnya dan memvisualisasikan mimpi-mimpi besar kami bersama. Bagaimanapun, manusia hanya bisa berencana, Allah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

Mengimbangi waktu untuk diri sendiri, pasangan maupun sebagai orangtua

Seringkali seorang ibu menuntut diberikan waktu untuk diri sendiri atau me-time oleh suaminya. Terlebih lagi jika pekerjaan rumahtangga dan pengasuhan anak harus dilakukan oleh seorang ibu sendirian dikarenakan ayah harus bekerja. Tentu hal ini boleh saja. Bagaimanapun, waktu bersama atau we-time baik sebagai suami-istri, ayah-anak, ibu-anak maupun ayah-ibu-anak juga sama pentingnya. Ibu dan ayah juga perlu mempunyai waktu bersama yang berkualitas atau quality time sebagai suami dan istri, walau hanya sekedar bercerita. Ayah juga dapat meluangkan waktu untuk pergi berdua saja bersama anak, walau hanya sekedar pergi belanja misalnya. Dengan demikian, ibu pun tentu akan merasa terbantu dan bisa mengerjakan pekerjaan lainnya. Meluangkan waktu jalan-jalan sebagai keluarga bersama anak juga tidak boleh lupa, dan berusaha melupakan sejenak masalah pekerjaan kantor maupun pekerjaan rumahtangga.

Memahami tanggungjawab masing-masing dalam rumahtangga

Seringkali masalah rumah tangga salah satunya disebabkan oleh kurangnya kerjasama. Terlebih jika hanya fokus pada siapa yang lebih berperan dalam rumahtangga. Ayah yang merasa paling lelah karena bekerja, ibu yang merasa paling lelah karena mengurus anak dan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya. Bagaimanapun, peran ibu maupun ayah sama pentingnya. Kerjasama yang baik antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. 

Nasihat dari almarhumah ibunda yang semoga akan selalu menjadi pengingat disaat kami lupa, bahwa suami-istri harus saling jujur dan terbuka. Bukan hanya sekedar berkomunikasi, tapi saling peduli tanpa merasa diawasi disetiap waktunya. Tidak hanya sekedar saling memuji dengan kata-kata, tapi bagaimana saling mengapresiasi disetiap kecil usahanya. Tidak hanya saling mengerti, tapi juga saling menghargai perasaannya. Ada saatnya istri berbicara, ada saatnya suami berbicara, keduanya harus memahami dalam membaca situasi dan kondisi pasangannya. Ada saatnya istri inisiatif, tanpa suami harus posesif, begitupun sebaliknya. Kalau keduanya sudah tahu kewajiban nasing-masing di dalam rumah tangga, tidak ada yang perlu menuntut haknya. 

Memohon doa restu orangtua

Terdengar klasik. Namun, kami meyakini bahwa apapun yang telah kami selesaikan tentu tidak lepas dari peran dan doa restu orangtua maupun mertua.

Setelah kami mencoba membenahi segala sesuatunya, akhirnya upaya yang dilakukan ternyata memberikan setitik cahaya. Hingga pada akhirnya, kami dapat menyelesaikan studi S3 dengan hasil yang istimewa dan dengan jarak waktu yang tidak jauh berbeda. Diwaktu yang tepat, yang tidak pernah kami sangka. Sungguh luar biasa jika mengingat begitu indah rencana-Nya. Merasa bersyukur bagaimana Allah berkali-kali membuktikan kepada kami bahwa tidak ada yang perlu kami ragukan atas apa-apa yang kami minta namun tidak diberikan oleh-Nya. Tugas kami hanya berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Pada akhirnya, berserah diri terhadap apapun hasilnya.

Bagaimanapun, harapannya masa-masa itu tidak hanya menjadi pengingat bagaimana susah-susahnya, tapi juga menjadi motivasi saat kami lupa bahwa masih ada tanggungjawab yang sesungguhnya didepan mata.

Setiap orang memiliki definisi kesuksesan yang berbeda. Ada yang mendefinisikan kesuksesan dengan harta, tahta maupun strata. Bagaimanapun kami menyadari masih jauh dari kesuksesan dunia.  Bagiku, kesuksesan adalah ketika ilmu yang telah didapat dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga dan juga tidak hanya didunia. Apapun yang kita lakukan didunia akan diminta pertanggungjawabannya, termasuk ilmu yang didapat sudah dipergunakan untuk apa. Bagaimanapun hal tersebut masih menjadi tantangan bagi kami selanjutnya. 

Definisi kegagalan pun demikian, setiap individu akan berbeda. Seiring dengan pertambahan usia, biasanya kebanyakan orang akan mengatakan bahwa menuntut ilmu sudah bukan lagi masanya, menuntut ilmu hanya untuk yang masih muda saja. Padahal tanpa disadari, selama kita masih hidup kita harus terus belajar, baik tentang ilmu dunia maupun agama. Hanya saja, mungkin dengan jalan atau cara yang berbeda.  Kegagalan bagiku adalah takut bermimpi, terlebih ketika keinginan untuk belajar sudah tidak ada. 

Salam,

@hannyjihanny

15 Februari 2023

5 hal ini yang saya lakukan sehingga istri saya bisa selesai S3 sambil mengandung, melahirkan, dan membesarkan putri pertama kami

Februari 15, 2023


Melakukan studi S3 adalah tantangan yang menguras tenaga, pikiran, perasaan dan juga kantong (tapi bisa juga mengisi kantong 😄). Oleh karena itu, bukan hal mudah untuk menjaga konsistensi dan semangat untuk dapat menyelesaikan studi S3. Seringkali mendengar dan melihat sendiri mahasiswa S3 yang membutuhkan konsultasi dengan psikolog, karena berbagai tekanan terkait penelitian. Bahkan ada yang sampai berhenti dari risetnya disaat penelitian sudah berjalan selama beberapa tahun.Hal ini bukan hal yang baru dan biasa terjadi dalam proses studi S3. (bagaimana perjalanan umum kuliah S3)

Tantangan terkait penyelesaian pendidikan, bukan cuma pendidikan S3, tetapi berbagai tingkat pendidikan lainnya pun, bagi individu dan mungkin utamanya perempuan tantangannya bisa menjadi menjadi semakin besar, ketika rencana untuk berkeluarga dan memiliki anak. Banyak yang jadinya memilih untuk tidak menyelesaikan pendidikan yang menurut pendapat pribadi saya adalah hal yang sangat wajar. Oleh karena itu, ketika saya dan istri berdiskusi terkait rencana memiliki anak, kami duduk bersama, diskusi kapan dan bagaimana kondisi yang akan dijalani ketika memiliki anak (say NO to childfree). Kemudian, kami merencanakan, membisikkan rencana kami pada Yang Maha Esa. Setelah dua tahun menjalani pernikahan,
alhamdulillah istri dapat menyelesaikan pendidikannya. Dengan berbagai lika-liku, pasang surut motivasi dalam meneliti dan sebagai orang tua baru, hal tersebut menjadi semakin menantang dikarenakan rencana orang tua untuk datang, terkendala pandemik, sehingga kami harus mengalami sendiri tahap-tahap awal menjadi orang tua tanpa pendamping disisi kami.

Semua tantangan selama masa kehamilan, persalinan dan dua tahun awal usia anak kami, alhamdulillah dapat terlewati dan istri pun berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan predikat "Magna Cumlaud", hal yang membuat saya sangat bangga dan terharu dengan perjuangan istri saya. 

Berikut ini 5 hal yang saya lakukan, selama mendukung pendidikan istri saya:

  1. Membantu pekerjaan rumah. Kebiasaan hidup merantau, membuat saya terbiasa mandiri dan melakukan pekerjaan rumah. hal ini sangat membantu selama hidup di eropa, dan saya juga sangat senang membantu istri saya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Menurut saya, (jika masih dilakukan manual) mencuci piring, menyiapkan pakaian bersih dan bersih-bersih rumah adalah tanggung jawab kepala keluarga sebagai janji pernikahan untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan. Adalah sebuah bentuk sedekah bagi istri, jika hal tersebut dilakukan oleh istri ketika suaminya bekerja.
  2. Visualisasi dan "binkaisasi" target bersama dan individu. saya dan istri terbiasa menvisualisasikan target kami, menuliskan dalam buku, mengulang-ulang dan menyuarakan dengan orang tua. Orang tua kami pun selalu memberikan masukan untuk memvisualisasikan kelak akan jadi apa diri kami. Kami bahkan menambahkan sedikit kreativitas dengan membuat desain, gambar, kata-kata, kemudian membingkai dan menempelkan di dinding kamar tidur kami. Hal ini selalu memotivasi diri kami, seperti ketika menuliskan nama istri dengan gelar pendidikannya, kemudian membisikan kepada Yang Maha Esa bagaimana bahagia dan bersyukurnya kami, ketika bisa berpelukan bersama dengan "toga" penyelesaian kuliah kami.
  3. Selalu tawarkan "me time". Terkadang istri membutuhkan waktu untuk dapat duduk tenang dan fokus pada kuliahnya, tapi disisi lain, mereka juga mungkin tidak tega melihat suaminya sudah kerja seharian dan minta untuk menjaga anak misalnya. Selalu inisiasi untuk tawarkan "me time" adalah salah satu hal yang saya lakukan. Menemani anak bermain seharian penuh di saat malam dan pagi hari sebelum kerja, atau sekedar pergi berdua dengan anak pada saat weekend adalah hal yang bisa membantu istri ketika membutuhkan sedikit konsentrasi dengan tugas-tugasnya.
  4. Banyak diskusi dan banyak jalan. Tekanan tugas-tugas yang tinggi dapat mengakibatkan stress dan merusak hari-hari. Kami selalu diskusi, terkait penelitian yang kami lakukan, bertukar pikiran dan gagasan, bahkan sering saling melihat "source code" yang masing-masing buat. Kami pun melakukan banyak wisata singkat, tetapi dengan jalan kaki. Kami sangat senang jalan kaki, dan alhamdulillah dengan transportasi publik yang bagus (juga karena belum punya sim eropa 😅), hal tersebut sangat nyaman dilakukan di eropa.
  5. Lebih banyak kerja dari rumah, atau jika pekerjaan tidak memungkinkan, cari kerja baru yang memungkinkan kerja dari rumah/jarak jauh. Hal terakhir ini adalah hal yang cukup beresiko, akan tetapi ya, terkadang resiko perlu diambil, ketika sudah didiskusikan bersama dan siap dengan konsekuensi bersama. Tetapi, buat saya keluarga adalah nomor satu, jika pekerjaan belum bisa mendukung kebutuhan mendesak dari keluarga, maka saatnya cari pekerjaan baru, atau mungkin buat pekerjaan baru. Bersyukur selama masa pandemik, kerja dari rumah sangat memungkinkan dan juga didukung oleh tempat kerja, pun saat menulis artikel ini sedang bekerja di perusahaan yang mendukung kerja remote 100%. Dengan fleksibilitas tempat dan waktu, saya menjadi siaga dengan keperluan istri yang mendadak.
Demikian 5 hal yang saya lakukan selama beberapa tahun terakhir ini untuk mendukung penyelesaian pendidikan istri, hal tersebut hanyalah faktor kecil, dibandingkan dengan doa dari orang tua, almarhumah mertua (kehilangan orang tua), usaha yang dilakukan istri sehingga atas izin Allah SWT, memudahkan langkah kami.

Salam,

I. Nurhas

13 Februari 2023

Punya anak, terbebani atau termotivasi?

Februari 13, 2023




Bismillahirrahmanirrahim...

Proses belajar untuk ikhlas kali ini lebih cepat dari ekspektasi. Dulu saat ayahanda pergi,  awalnya hanya bisa menutup diri dan butuh waktu sekitar 2 tahun untuk benar-benar bisa bangkit lebih kuat lagi. Mencoba merenungi dan mempelajari apa ya yang berbeda kali ini.  Rasanya ada yang mendorong untuk tidak boleh berlama-lama dengan perasaan sedih ini. Ternyata kali ini ada peran suami dan terutama sang buah hati. Ada manusia kecil yang masih membutuhkan semangatku saat ini. 

Merasa takjub bagaimana kehadiran seorang anak bisa menjadi kekuatan tersendiri, ketika rasanya badan ini tidak sanggup lagi berdiri. Tanpa disadari, anak juga memberikan sumber energi untuk berusaha lebih keras lagi, walau kadang tantangan datang tak henti-henti dan rasa ingin menyerah sering terbesit dihati.

Bagi kebanyakan pasangan suami-istri, kehadiran sang buah hati menjadi salah satu momen yang sangat dinanti-nanti. Melihat anak tumbuh kembang dari bayi hingga bisa mandiri memberikan kebahagiaan tersendiri dan menjadi momen yang tidak dapat terganti. Biasanya, saat kita menjadi orangtua akan muncul motivasi untuk menjadi versi terbaik dari diri. Berusaha menjadi panutan yang terbaik bagi anak sebagai bekalnya nanti. 

Tapi, tidak jarang juga ada orangtua, terutama ibu dengan memiliki anak menjadi terbebani, bahkan depresi. Dapat dipahami bahwa mempunyai anak bukanlah proses singkat yang harus dilalui. Mulai dari hamil, melahirkan, hingga menyusui. Rasa lelah dan malam-malam kurang tidur yang tidak dapat dihitung dengan jari. Sebagai orangtua, tentunya akan ada rasa tanggungjawab untuk mendidik agar sang anak bermanfaat untuk masyarakat suatu hari nanti. Curhatan orangtua tentang beratnya memiliki anak sering digaungi, yang membuat keputusan untuk tidak memiliki anak atau yang dikenal dengan istilah childfree menjadi trend saat ini. Keputusan untuk tidak memiliki anak tentunya hak pribadi. Bagaimanapun, menjadi orangtua membutuhkan kemauan belajar tanpa henti. Ilmu dapat dicari, tapi kesempatan kadang tidak datang dua kali. Penting juga untuk dipahami bahwa pengasuhan anak merupakan tanggungjawab bersama antara suami dan istri. Oleh karena itu, penting untuk punya support system yang tidak hanya bisa mengomentari tapi siap sedia mengulurkan tangan,  mendampingi dan membersamai.

Keputusan untuk memiliki anak sebaiknya dengan penuh kesadaran dan kesiapan diri, agar anak tidak menjadi beban dikemudian hari. Penting untuk dibicarakan bersama berdua suami dan istri, alasan mengapa ingin memiliki buah hati. Seringkali orang berpikir ingin memiliki anak hanya karena ingin ada yang mengurus saat tua nanti. Tentu ini hanya akan berbuah kekecewaan jika kenyataannya sang anak sudah sibuk dengan hidup dan keluarganya sendiri. Saat lanjut usia, tidak jarang orangtua merasa sepi dan itu sangat manusiawi. Disisi lain tentunya kita akan senang kalau anak menjadi pribadi yang mandiri dan penuh semangat dengan mimpi. 

Belajar dari Jerman yang merupakan salah satu negara yang sedang menghadapi krisis populasi. Mereka semakin menyadari, pentingnya memikirkan keberlanjutan generasi untuk pergerakan ekonomi. Tapi, mereka juga memahami bahwa membesarkan anak tidak hanya membutuhkan cinta, perhatian, dan kepedulian, tetapi  waktu dan uang juga perlu diimbangi. Kedua sumber daya tersebut sering kali dalam keluarga tidak tersedia atau tidak tercukupi. Berbagai dukungan negara untuk keluarga di Jerman diberikan baik secara moril maupun materi. Tunjangan anak (Kindergeld), tunjangan orang tua (Elterngeld), waktu cuti orangtua (Elternzeit) baik untuk ibu dan ayah merupakan beberapa dukungan yang diberi. Dukungan atau tunjangan yang diberikan memungkinkan banyak ibu dan ayah untuk bekerja lebih sedikit atau tidak bekerja sama sekali untuk sementara waktu demi merawat sang buah hati. Dengan demikian, harapan dapat menggeser mindset dari Kinder sind teuer (anak biayanya mahal) menjadi Kinder sind ein großes Geschenk (anak adalah hadiah yang besar) yang perlu dirawat sepenuh hati.

Sebagai orangtua, keputusan untuk memiliki anak tidak hanya tentang menambah populasi, tetapi juga bertanggungjawab menyiapkan generasi yang kuat dan berkualitas tinggi, yang tidak hanya bisa mengkonsumsi tetapi juga mampu berinovasi.

Jadi, apakah dengan memiliki anak dapat menjadi motivasi atau malah terbebani? Jawabannya akan berbeda tergantung masing-masing kondisi dan bagaimana setiap individu menyikapi. 


Salam,

 @hannyjihanny

Rasulullah SAW bersabda,

Apabila seorang manusia meninggal, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang salih.